Just another WordPress.com site

Dibalik Keberhasilan TIMNAS

Keberhasilan timnas Indonesia ke babak Final Piala AFF 2010 menimbulkan sebuah euforia yang luar biasa. Dalam euforia tersebut, nama Irfan Bachdim, Cristian Gonzales, dan Oktovianus Maniani mengemuka.


Mereka menjadi idola baru publik sepak bola negeri ini. Terutama Irfan yang digilai banyak wanita karena paras dan aksi-aksinya.
Lalu, benarkah mereka sang bintang utama? Di lapangan, mereka memang menyita perhatian. Namun, sebenarnya ada sosok yang juga punya peran mahabesar, dialah pelatih Alfred Riedl.

Datang pada Mei 2010, pria asal Austria yang pernah menukangi timnas Vietnam dan Laos itu mampu melakukan revolusi di dalam tubuh timnas. Setidaknya ada beberapa hal yang menonjol dari dirinya. Tegas, disiplin dan fair adalah prinsip utama yang dipegangnya.

“Riedl itu sosok pelatih yang terbuka terhadap masukan dari siapa saja. Namun, dialah yang menentukan sikapnya sendiri. Dia tidak suka otoritasnya diganggu,” ungkap Widodo C Putro, sang asisten.
Ketegasan itu juga tercermin dari putusannya mencoret Boaz Solossa yang dianggap indispliner karena tidak memenuhi panggilan bergabung dengan timnas. Sikap itu dipuji pelatih Persija, Rahmad Darmawan. “Sikap tanpa kompromi terhadap hal-hal nyeleneh membuat tim lebih solid. Para pemain merasa akhirnya diperlakukan sama dan tak ada yang dianakemaskan,” kata Rahmad Darmawan.
Toh, sikap tegas dan cenderung otoriter itu sempat menimbulkan masalah. Pada Oktober silam, dia berselisih dengan Andi Darussalam Tabusalla. Gara-garanya, Riedl mengusir asisten pribadi Andi bukan bagian dari tim.

Sementara soal kedisiplinan sudah terlihat dari larangan berinteraksi bebas dengan media massa yang diberlakukan seusai penyisihan grup. Dia menilai pemberitaan soal timnas dan para pemain tak lagi proporsioanl. Dia tidak memusuhi para kuli tinta, namun menuntut sikap saling menghargai.

“Honesty, itu yang penting, baik antara pemain dan pelatih, pelatih dengan media, maupun media dengan pemain. Ingat, para pemain bukan bermain untuk saya, melainkan untuk negeri anda (Indonesia),” ungkap Riedl.

Di balik sikap tegas dan cenderung tanpa kompromi itu, Riedl adalah sosok yang selalu menjunjung tinggi objektivitas. Itu diantaranya terlihat dalam pemilihan pemain. Sejak ditunjuk menangani Tim Merah-Putih, Riedl sudah menegaskan hal tersebut.

“Putusan soal siapa yang akan masuk tim tidak akan didasarkan pada siapa yang saya sukai dan siapa yang tidak saya suka. Itu sepenuhnya akan dilakukan secara objektif dan lebih berdasarkan kepada performa terakhir para pemain,” urai Riedl.

Objektivitas itu dirasakan betul oleh Okto Maniani. Berkat performa apik di Sriwijaya FC, dia mampu masuk ke tim utama dan menjadi andalan di sayap kiri. “Aku sungguh tak menyangka bisa masuk ke tim inti karena ada Arif Suyono yang lebih berpengalaman,” aku eks punggawa PSMS dan Persitara itu.

Objektivitas itu, menurut Rahmad, berdampak positif terhadap tim. “Itu membuat Riedl mampu membangun tim dengan soliditas tinggi. Itu pula yang membuat para pemain tampil dengan semangat tinggi saat bermain,” urai dia.

Secara khusus, Rahmad mengancungi jempol bagi Riedl dalam dua hal itu. Apalagi Riedl melakukannya dalam waktu relatif singkat. “Membuat tim yang solid dan bermotivasi tinggi bukan hal mudah. Itu adalah prestasi yang harus kita apresiasi,” tambah dia.

Kemampuan Riedl memompa motivasi anak-anak buahnya diakui para pemain. Diantaranya Bambang Pamungkas sempat mengungkapkan kepintaran Riedl dalam memotivasi. Sementara Firman menilai cara Riedl membangkitkan semangat pemain tergolong luar biasa. Motivasi ini pula yang membuat timnas bisa bermain apik saat laga melewati 60 menit.

Hal lain yang menonjol adalah sikap tidak memandang enteng lawan. “Salah satu yang saya sukai dari Riedl adalah dia tidak mudah sesumbar. Lain dari itu, tentu saja karena dia mampu melakukan pemilihan pemain yang tepat, mengorganisasikan tim dengan baik, menekankan disiplin, dan mampu meredam emosi pemain,” ungkap Iwan Sagi Nasution, salah satu fans yang rajin datang ke SUGBK.

Sebuah hasil poling yang diikuti 727 responder, menunjukkan bahwa Alfred Riedl merupakan kunci sukses keberhasilan tim Merah-Putih. Setidaknya ada tiga alasan yang mengemuka, yakni:
1. Riedl mampu mengambil keputusan tepat dalam pemilihan pemain.
2. Kedisiplinan yang diterapkan Riedl.
3. Kemampuan Riedl dalam meracik strategi permainan.

Hasil poling menujukkan bahwa 54,96% menunjukkan Riedl sebagai kunci utama keberhasilan timnas, 33,33% menunjukkan kualitas pemain sebagai kunci utama dan 11,71% menganggap kontribusi pemain naturalisasi sebagai kunci sukses timnas.

Jadi, tidak dapat dipungkiri sosok Alfred Riedl punya peran besar di balik kesuksesan timnas Indonesia. Lalu, akankah sentuhan Riedl berlanjut hingga Final? Semoga…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: